Kabut Asap Sudah Menjadi Ancaman Nyata
Oleh: Divisi Redaksi


Musim kemarau tahun ini kembali membawa persoalan lama yang tak kunjung tuntas kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di Sumatra Selatan, kabut asap pekat menyelimuti sejumlah daerah sejak Juli 2026, dan kondisinya terus memburuk memasuki Agustus. Palembang, sebagai salah satu kota paling terdampak, bahkan sempat mencatat kualitas udara pada level hitam alias berbahaya bagi kesehatan selama tiga hari berturut-turut.
Konsentrasi partikulat halus (PM2.5) di Palembang menembus angka 400 hingga 600 mikrogram per meter kubik jauh di atas ambang batas aman. Pola hariannya pun mengkhawatirkan kualitas udara sedikit membaik menjelang siang, namun kembali memburuk drastis mulai sore hingga dini hari, saat kabut asap justru semakin pekat. Menurut Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, kondisi ini murni disebabkan oleh karhutla, bukan abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau.
Fenomena serupa juga terjadi di Kalimantan, wilayah yang secara ekologis sangat rentan terhadap kebakaran karena luasnya lahan gambut. Sifat gambut yang mudah terbakar saat kering membuat api tidak hanya menjalar di permukaan, tetapi juga merambat ke lapisan bawah tanah sehingga sulit dipadamkan dan menghasilkan asap dalam durasi yang jauh lebih lama. Dampak paling nyata dari kabut asap ini terlihat pada angka kesehatan masyarakat, khususnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Di Sumatra Selatan saja, sepanjang Agustus 2026 tercatat 44.224 kasus ISPA jumlah tertinggi sepanjang tahun. Angka ini terus menanjak dari bulan-bulan sebelumnya. Secara kumulatif, sepanjang Januari Agustus 2026 tercatat 113.883 penderita ISPA di provinsi tersebut, dengan Palembang sebagai penyumbang kasus terbanyak. Daerah-daerah yang menjadi titik karhutla juga menyumbang angka besar, seperti Muara Enim (40.512 kasus), Musi Banyuasin (25.174), Banyuasin (19.728), Lahat (17.464), Musi Rawas (17.068), OKU Timur (16.446), Ogan Ilir (14.917), Lubuklinggau (14.538), dan Ogan Komering Ilir (14.391). Dinas Kesehatan Sumsel mencatat kenaikan tahun ini signifikan dibanding tahun sebelumnya, meski peningkatannya tidak merata di setiap daerah.
Mengapa Kabut Asap Bisa Sampai Menyebabkan Ini?
Asap hasil pembakaran biomassa hutan dan lahan gambut bukan sekadar mengganggu jarak pandang kandungannya jauh lebih berbahaya dari yang terlihat. Di dalamnya terdapat partikel halus PM2.5, karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), serta berbagai senyawa kimia hasil pembakaran tidak sempurna. PM2.5 sangat berbahaya adalah ukurannya yang amat kecil, sehingga mampu menembus jauh ke saluran pernapasan bagian bawah hingga alveolus paru-paru. Di sanalah ia memicu iritasi, peradangan, dan gangguan fungsi pernapasan yang pada akhirnya bermanifestasi sebagai ISPA. Dokter spesialis paru dari FK-KMK UGM, dr. Ika Trisnawati, menjelaskan bahwa pada musim kemarau, partikel debu di tanah dan udara memang lebih mudah terbawa angin dan terhirup ke saluran napas sehingga peningkatan kasus ISPA pada periode ini sesungguhnya sudah menjadi pola yang berulang setiap tahun, dan diperparah oleh keberadaan asap karhutla. Tidak semua orang punya tingkat kerentanan yang sama. Kelompok yang paling berisiko mengalami dampak berat antara lain:
Anak-anak, karena saluran napasnya masih berkembang dan berdiameter lebih kecil, sehingga lebih mudah tersumbat saat terjadi peradangan atau penumpukan dahak.
Lansia, akibat penurunan fungsi organ pernapasan seiring usia.
Penderita penyakit paru kronis seperti asma, PPOK, tuberkulosis paru, dan kanker paru.
Penderita penyakit kronis lain seperti diabetes, penyakit jantung, dan gagal ginjal.
Ibu hamil dan bayi.
Faktor lingkungan turut memperbesar risiko. Permukiman padat dengan sirkulasi udara buruk mempermudah penularan ISPA antarpenghuni, apalagi bila kondisi sanitasi kurang baik atau lokasinya berdekatan dengan sumber pembakaran sampah, kawasan industri, maupun jalan raya dengan lalu lintas padat. Karhutla sendiri, menurut kajian, tidak bisa dipandang sekadar bencana alam. Faktor antropogenik seperti praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar, lemahnya penegakan hukum, serta tingginya permintaan komoditas perkebunan seperti sawit menjadi pemicu utama yang membuat kebakaran terus berulang setiap tahun. Menghadapi situasi ini, langkah pencegahan dan perlindungan diri menjadi kunci utama, baik dari sisi individu maupun kebijakan bagi masyarakat di wilayah terdampak:
Batasi aktivitas di luar ruangan, terutama saat kualitas udara memburuk (biasanya sore hingga dini hari).
Gunakan masker atau respirator yang sesuai bila terpaksa keluar rumah.
Tutup pintu dan jendela untuk mengurangi asap yang masuk ke dalam rumah.
Hindari aktivitas fisik berat di luar ruangan.
Pantau informasi kualitas udara secara berkala dari sumber resmi seperti BMKG.
Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan primer (puskesmas) bila keluhan tidak membaik dalam 3–5 hari, demam tidak turun, dahak berubah warna menjadi kekuningan, sesak memburuk, atau pada anak muncul suara mengi saat bernapas.
Sebagai langkah pencegahan jangka panjang:
Hindari pembakaran lahan maupun sampah rumah tangga, khususnya saat musim kemarau.
Terapkan gaya hidup sehat istirahat cukup, olahraga di lingkungan minim paparan debu/asap, dan asupan gizi seimbang untuk menjaga daya tahan tubuh.
Penegakan aturan yang lebih tegas terhadap praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar, mengingat karhutla pada dasarnya merupakan persoalan lingkungan dan sosial yang kompleks, bukan semata bencana alam.
Karhutla dan dampaknya terhadap kesehatan bukan lagi isu musiman yang bisa dianggap remeh. Lonjakan kasus ISPA setiap tahun menunjukkan bahwa persoalan ini membutuhkan penanganan lintas sektor dari kesiapsiagaan fasilitas kesehatan, edukasi masyarakat, hingga penegakan hukum terhadap akar penyebabnya.
Sumber :
https://research-report.umm.ac.id/index.php/snpb/article/view/420
https://tirto.id/44224-warga-sumsel-kena-ispa-selama-agustus-imbas-asap-karhutla-hCHd
