PESTA 2026: Tiga Hari Menyambut Mahasiswa Baru, Merajut Kreativitas hingga Menyuarakan Aspirasi
Oleh: Bidang Redaksi


Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menyambut mahasiswa baru melalui Pesona Ta’aruf (PESTA) 2026. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 3–5 September 2026, tersebut menjadi ruang awal bagi mahasiswa baru angkatan 2026 untuk mengenal lingkungan kampus, membangun relasi, sekaligus memperoleh gambaran mengenai kehidupan mahasiswa.
Tidak hanya menjadi agenda penyambutan, PESTA 2026 membawa mahasiswa baru untuk mengenal nilai-nilai kepemimpinan, keislaman, kreativitas, organisasi kemahasiswaan, hingga penyampaian aspirasi. Rangkaian kegiatan tersebut dikemas melalui berbagai materi dan aktivitas yang melibatkan mahasiswa baru secara langsung.
Hari Pertama: Kepemimpinan, Keislaman, dan Ruang untuk Berpikir Kritis
Hari pertama PESTA 2026 menjadi pembuka rangkaian kegiatan dengan materi yang berfokus pada pembentukan karakter mahasiswa. Salah satu agenda utama adalah Talkshow Kepemimpinan yang menghadirkan Mahfud MD sebagai pemateri.
Dalam materi tersebut, Mahfud menyoroti persoalan kepemimpinan, khususnya mengenai pentingnya sifat amanah ketika seseorang memperoleh kekuasaan. Fenomena korupsi kemudian digunakan sebagai salah satu gambaran mengenai pudarnya nilai amanah dalam kepemimpinan. Mahfud juga mengingatkan bahwa pendidikan tinggi tidak secara otomatis menjamin seseorang memiliki integritas sehingga karakter dan nilai yang dimiliki mahasiswa tetap menjadi hal yang perlu dibangun sejak awal.
Materi tersebut kemudian diperkuat melalui sesi Muara Gagasan, yang memberikan ruang bagi mahasiswa baru untuk mendiskusikan isu Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Mahasiswa baru didorong untuk menyampaikan pendapat dan bertukar perspektif mengenai kondisi kepemimpinan di Indonesia. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk pengenalan bahwa kehidupan mahasiswa tidak hanya berkutat pada kegiatan akademik, tetapi juga menuntut kemampuan berpikir kritis dan kepekaan terhadap persoalan sosial.
Masih pada hari yang sama, PESTA 2026 menghadirkan Habib Ja’far Al-Jufri dalam Talkshow Keislaman. Materi tersebut mengangkat keberanian untuk berhijrah dan melakukan perubahan dalam kehidupan. Hijrah tidak hanya dipahami sebagai perpindahan tempat, tetapi juga sebagai proses meninggalkan keadaan yang kurang baik menuju kondisi yang lebih baik. Habib Ja’far juga mengaitkan proses tersebut dengan karakter insan Ulil Albab, yaitu keseimbangan antara spiritualitas dan kemampuan intelektual dalam membaca persoalan serta mencari solusi.
Rangkaian materi hari pertama dengan demikian memberikan bekal awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal peran mereka sebagai mahasiswa. Nilai kepemimpinan, integritas, keberanian melakukan perubahan, serta kemampuan berpikir kritis menjadi pesan yang cukup kuat sebelum mahasiswa baru memasuki berbagai aktivitas kemahasiswaan di hari berikutnya.
Hari Kedua: Mengenal Kreativitas dan Dunia Organisasi Kampus
Memasuki hari kedua, suasana PESTA 2026 bergeser menjadi lebih interaktif. Mahasiswa baru mengikuti Nayaka Citra Yatra, sebuah kegiatan yang mengajak mereka berkolaborasi melalui karya kreatif berupa lukisan pada kaos.
Kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada hasil karya, tetapi juga menjadi sarana bagi mahasiswa baru untuk belajar membagi peran dalam kelompok. Peserta yang memiliki kemampuan menggambar dapat mengambil bagian dalam proses melukis, sementara anggota lainnya turut berkontribusi melalui pencarian ide, referensi, maupun konsep karya.
Namun, pelaksanaan Nayaka Citra Yatra juga memperlihatkan adanya tantangan dalam pembagian media. Jumlah anggota kelompok yang cukup banyak membuat kesempatan untuk terlibat secara langsung belum sepenuhnya merata. Meski demikian, kegiatan tersebut tetap menjadi ruang bagi mahasiswa baru untuk berkenalan dengan teman lintas program studi sekaligus belajar membangun kerja sama.
Selain kegiatan kreatif, hari kedua juga diisi dengan pengenalan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di UII. Pengenalan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa baru untuk melihat beragam pilihan aktivitas di luar perkuliahan, mulai dari bidang seni, olahraga, akademik, hingga organisasi dan kegiatan pengembangan minat-bakat.
Bagi mahasiswa baru, pengenalan UKM menjadi salah satu bagian penting dalam proses adaptasi di lingkungan perguruan tinggi. Kehidupan kampus tidak hanya dibentuk melalui ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman berorganisasi, berkolaborasi, dan mengembangkan ketertarikan masing-masing.
Hari Ketiga: Dari Simulasi Aksi hingga Panggung Hiburan
Hari terakhir PESTA 2026 membawa mahasiswa baru pada pengalaman yang berbeda. Salah satu agenda yang dilaksanakan adalah Manajemen Simulasi Aksi, yang mengajak mahasiswa baru mempraktikkan penyampaian aspirasi melalui simulasi aksi.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa baru berbaris, menyampaikan orasi, dan membawa isu Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) sebagai salah satu materi utama. Simulasi tersebut menjadi bentuk pembelajaran mengenai bagaimana mahasiswa dapat menyampaikan keresahan dan aspirasi terhadap persoalan publik secara kolektif. Dokumentasi kegiatan memperlihatkan mahasiswa baru melakukan berbagai gestur aksi dan menyuarakan tuntutan melalui orasi.
Setelah rangkaian kegiatan mahasiswa, PESTA 2026 memasuki agenda penutupan. Upacara penutupan diisi dengan pembacaan ikrar mahasiswa, lagu Indonesia Raya dan Himne UII, serta prosesi simbolik penancapan pedang yang menandai berakhirnya rangkaian PESTA 2026.
Suasana penutupan kemudian berlanjut dengan agenda hiburan. Unisi Music Community (UMC) turut tampil dalam rangkaian entertainment, sebelum Kunto Aji menjadi penampil utama. Kehadiran Kunto Aji menjadi salah satu momen yang paling dinantikan mahasiswa baru sekaligus menutup tiga hari PESTA 2026 dengan suasana yang lebih santai dan meriah.
Catatan di Balik Pelaksanaan PESTA 2026
Di balik rangkaian kegiatan yang telah berjalan selama tiga hari, pelaksanaan PESTA 2026 juga menyisakan sejumlah catatan yang perlu menjadi evaluasi. Salah satunya berkaitan dengan fasilitas bagi mahasiswa baru selama mengikuti kegiatan.
Pada bagian barisan mahasiswa baru yang berada paling kanan, terdapat peserta yang tidak mendapatkan kipas serta mengalami keterbatasan akses terhadap sound system dan proyektor. Kondisi tersebut membuat sebagian mahasiswa mengalami kesulitan untuk mengikuti materi dan jalannya acara secara optimal, terutama ketika kegiatan berlangsung dalam jumlah peserta yang besar.
Persoalan lain muncul pada aspek konsumsi. Sejumlah mahasiswa dan panitia menyampaikan kekhawatiran terhadap konsumsi yang disediakan selama PESTA 2026. Terdapat mahasiswa yang menemukan benda asing pada makanan, seperti pecahan kaca, ulat, dan rambut. Selain itu, distribusi makan siang juga mengalami keterlambatan. Porsi lauk yang dinilai relatif sedikit turut menimbulkan kekecewaan dan membuat sebagian mahasiswa baru merasa kurang puas.
Aspek mobilisasi juga menjadi catatan dalam pelaksanaan kegiatan. Proses perpindahan mahasiswa baru dari satu lokasi maupun agenda menuju agenda berikutnya membutuhkan waktu cukup lama sehingga beberapa rangkaian kegiatan berjalan lebih lambat dibandingkan dengan waktu yang telah ditetapkan dalam rundown.
Berbagai persoalan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah kegiatan besar tidak hanya dapat diukur dari kemeriahan acara dan keberagaman rangkaian kegiatan. Kenyamanan, keamanan konsumsi, akses informasi, kesiapan fasilitas, serta efektivitas mobilisasi juga menjadi bagian penting yang menentukan pengalaman peserta.
Lebih dari Sekadar Ajang Penyambutan
Selama tiga hari, PESTA 2026 berusaha memperkenalkan mahasiswa baru pada berbagai wajah kehidupan kampus. Dari materi kepemimpinan bersama Mahfud MD, refleksi keislaman bersama Habib Ja’far, diskusi mengenai integritas, kegiatan kreatif, pengenalan UKM, hingga simulasi penyampaian aspirasi, mahasiswa baru diperkenalkan pada kehidupan kampus yang lebih luas daripada sekadar aktivitas akademik
Meski masih terdapat sejumlah catatan dalam pelaksanaannya, PESTA 2026 dapat menjadi titik awal bagi mahasiswa baru angkatan 2026 untuk mengenal lingkungan UII sekaligus memahami peran mereka sebagai bagian dari masyarakat akademik.
Tiga hari mungkin cukup untuk memperkenalkan kampus, tetapi perjalanan sebagai mahasiswa baru tentu baru saja dimulai.
